Posted in
PPMM
By Ali Sahiel
Posted in
Artikel
1. Tom Cruise
Aktor yang pekan ini menjadi bahan perbincangan karena prahara rumah tangga ternyata memiliki penghasilan terbesar dari semua jajaran aktor Hollywood.
Dilansir melalui Forbes, dalam satu judul film Tom Cruise terima Rp 701 miliar. Film terbarunya akan segera rilis akhir tahun nanti, film drama kriminal tersebut bertajuk JACK REACHER.
2. Leonardo DiCaprio
Meski film terbarunya berjudul J EDGAR gagal di Oscar maupun pemasukan finansial, tak membuat citra Leonardo DiCaprio memburuk. Terbukti, aktor yang mulai dikenal lewat TITANIC ini mendapat peringkat kedua sebagai aktor dengan bayaran termahal.
Forbes menyebutkan jika upah DiCaprio dalam satu judul film adalah Rp 346 miliar. Proyek selanjutnya yang bakal rilis adalah THE GREAT GATSBY. Rencananya film ini bakal tayang dalam bentuk 3D.
3. Dwayne Johnson
Aktor yang awalnya dikenal dengan nama panggung The Rock ini mulai menancapkan taringnya di jagad perfilman. Dengan upah Rp 366 miliar dalam satu film, Dwayne Johnson menduduki peringkat sebagai aktor berpenghasilan termahal ketiga.
Film teranyarnya bertajuk GI JOE 2 yang terjadwal rilis musim panas terpaksa diundur tahun depan karena berbagai alasan.
4. Ben Stiller
Aktor Ben Stiller menduduki peringkat keempat dengan penghasilan Rp 308 miliar dalam satu judul film. Komedian satu ini mendapatkan banyak untung lewat filmnya bertajuk MEET THE PARENTS dan NIGHT AT THE MUSEUM. Jangan lupakan pula trilogi MADAGASCAR di mana Stiller menjadi pengisi suara.
5. Sacha Baron Cohen
Meski tampak jarang bermain film, Sacha Baron Cohen mampu menduduki peringkat kelima. Pasalnya dalam satu produksi film, bintang THE DICTATOR ini diupah $30 juta atau sekitar Rp 280,5 miliar.
6. Johnny Deep
Aktor yang dikabarkan tengah dekat dengan aktris biseksual Amber Heard ini menduduki peringkat selanjutnya. Dalam satu judul film, mantan pasangan kumpul kebo Vanessa Paradis ini mampu hasilkan Rp 280,5 miliar.
Tahun ini usai merilis DARK SHADOWS, Depp bakal tampil dalam film bertajuk THE LONE RANGER. Depp diplot sebagai Tonto dalam film arahan Gore Verbinski tersebut.
7. Will Smith
Will Smith kembali ramaikan musim panas dengan bintangi film bertajuk MEN IN BLACK III. Sejauh ini, film tersebut sudah mendapat pemasukan sebanyak 5,6 triliun dari seluruh dunia.
Menurut Forbes, dalam satu judul film Smith mendapat upah sebesar Rp 280,5 miliar.
8. Mark Wahlberg
Rp 252 miliar adalah jumlah gaji yang disepakati oleh mantan rocker yang memiliki empat anak ini. Usai THE FIGHTER yang mendapat banyak pujian, Mark Wahlberg terus-menerus bintangi banyak film.
TED adalah film terbaru yang dibintangi Mark. Tanpa disangka film ini memperoleh pemasukan yang cukup baik diawal perilisan.
9. Robert Pattinson
Aktor yang pekan ini menjadi bahan perbincangan karena prahara rumah tangga ternyata memiliki penghasilan terbesar dari semua jajaran aktor Hollywood.
Dilansir melalui Forbes, dalam satu judul film Tom Cruise terima Rp 701 miliar. Film terbarunya akan segera rilis akhir tahun nanti, film drama kriminal tersebut bertajuk JACK REACHER.
2. Leonardo DiCaprio
Meski film terbarunya berjudul J EDGAR gagal di Oscar maupun pemasukan finansial, tak membuat citra Leonardo DiCaprio memburuk. Terbukti, aktor yang mulai dikenal lewat TITANIC ini mendapat peringkat kedua sebagai aktor dengan bayaran termahal.
Forbes menyebutkan jika upah DiCaprio dalam satu judul film adalah Rp 346 miliar. Proyek selanjutnya yang bakal rilis adalah THE GREAT GATSBY. Rencananya film ini bakal tayang dalam bentuk 3D.
3. Dwayne Johnson
Aktor yang awalnya dikenal dengan nama panggung The Rock ini mulai menancapkan taringnya di jagad perfilman. Dengan upah Rp 366 miliar dalam satu film, Dwayne Johnson menduduki peringkat sebagai aktor berpenghasilan termahal ketiga.
Film teranyarnya bertajuk GI JOE 2 yang terjadwal rilis musim panas terpaksa diundur tahun depan karena berbagai alasan.
4. Ben Stiller
Aktor Ben Stiller menduduki peringkat keempat dengan penghasilan Rp 308 miliar dalam satu judul film. Komedian satu ini mendapatkan banyak untung lewat filmnya bertajuk MEET THE PARENTS dan NIGHT AT THE MUSEUM. Jangan lupakan pula trilogi MADAGASCAR di mana Stiller menjadi pengisi suara.
5. Sacha Baron Cohen
Meski tampak jarang bermain film, Sacha Baron Cohen mampu menduduki peringkat kelima. Pasalnya dalam satu produksi film, bintang THE DICTATOR ini diupah $30 juta atau sekitar Rp 280,5 miliar.
6. Johnny Deep
Aktor yang dikabarkan tengah dekat dengan aktris biseksual Amber Heard ini menduduki peringkat selanjutnya. Dalam satu judul film, mantan pasangan kumpul kebo Vanessa Paradis ini mampu hasilkan Rp 280,5 miliar.
Tahun ini usai merilis DARK SHADOWS, Depp bakal tampil dalam film bertajuk THE LONE RANGER. Depp diplot sebagai Tonto dalam film arahan Gore Verbinski tersebut.
7. Will Smith
Will Smith kembali ramaikan musim panas dengan bintangi film bertajuk MEN IN BLACK III. Sejauh ini, film tersebut sudah mendapat pemasukan sebanyak 5,6 triliun dari seluruh dunia.
Menurut Forbes, dalam satu judul film Smith mendapat upah sebesar Rp 280,5 miliar.
8. Mark Wahlberg
Rp 252 miliar adalah jumlah gaji yang disepakati oleh mantan rocker yang memiliki empat anak ini. Usai THE FIGHTER yang mendapat banyak pujian, Mark Wahlberg terus-menerus bintangi banyak film.
TED adalah film terbaru yang dibintangi Mark. Tanpa disangka film ini memperoleh pemasukan yang cukup baik diawal perilisan.
9. Robert Pattinson
Asal tahu saja, sebelum dikenal sebagai Edward Cullen dalam TWILIGHT, Robert Pattinson pernah perankan Cedric Digory, salah satu pemain Quidditch asrama Gryffindor.Sama dengan rekan satu film, Taylor Lautner, R-Patz mendapat upah Rp 247,775 miliar dalam satu kali produksi film.
Seolah ingin lepas dari image vampir rekaan Stephenie Meyer, R-Patz membintangi banyak film-film serius meski hasil box office tak pernah sesukses TWILIGHT.
10. Taylor Lautner
Di urutan buncit berdiri aktor yang dikenal lewat TWILIGHT. Dia adalah Taylor Lautner.
Seperti dicatat oleh Forbes, aktor yang pernah membintangi film action bertajuk ABDUCTION bersama Lily Colins ini menerima upah $26,5 juta atau sekitar Rp 247,775 miliar.
Proyek selanjutnya usai BREAKING DAWN PART 2 yang akan rilis November mendatang. Setelah itu Lautner bakal membintangi GROWN UPS 2 dan TRACERS.
Seolah ingin lepas dari image vampir rekaan Stephenie Meyer, R-Patz membintangi banyak film-film serius meski hasil box office tak pernah sesukses TWILIGHT.
10. Taylor Lautner
Di urutan buncit berdiri aktor yang dikenal lewat TWILIGHT. Dia adalah Taylor Lautner.
Seperti dicatat oleh Forbes, aktor yang pernah membintangi film action bertajuk ABDUCTION bersama Lily Colins ini menerima upah $26,5 juta atau sekitar Rp 247,775 miliar.
Proyek selanjutnya usai BREAKING DAWN PART 2 yang akan rilis November mendatang. Setelah itu Lautner bakal membintangi GROWN UPS 2 dan TRACERS.
KapanLagi.com
By Ali Sahiel
Posted in
Artikel
Dalam kehidupan
sehari-hari saya seringkali menemukan penggunaan bahasa Indonesia yang keliru.
Saya mungkin bukan mahasiswa jurusan sastra Indonesia, tapi saya ingin mencoba
membantu memaparkan contoh-contoh penggunaan bahasa yang salah dan menyalahi
kaidah bahasa Indonesia, dan sudah terlanjur menjadi budaya umum…
A.
PENULISAN
SINGKATAN DAN AKRONIM
Singkatan merupakan
perpendekan serangkaian kata ke dalam bentuk beberapa huruf. Kata-kata yang
dimaksud biasanya merujuk kepada nama lembaga, bidang studi, nama tempat, atau
istilah. Umumnya huruf-huruf yang membentuknya adalah huruf-huruf awal dari
kata-kata tersebut. Cara membacanya pun beragam, tergantung huruf-huruf yang
membentuknya. Misal, “IPA” akan diucapkan “I-Pa” karena memiliki huruf vokal
“A” di belakang . Rasanya kita jarang sekali mendengar orang menyebut “I-P-A”.
Namun “IPS” akan dibaca “I-P-S” karena terdiri dari dua huruf mati atau
konsonan yang mengakhiri singkatan. Mustahil rasanya saat ditanya mengenai
jurusan, orang menjawab, “Saya jurusan Ipssss!”
Tapi masyarakat
kita seringkali mengasosiasikan akronim sebagai singkatan. Meski fungsinya
sama-sama sebagai penyingkat, tapi akronim memiliki bentuk yang berbeda dengan
singkatan. Akronim dibentuk dari kumpulan suku kata dari kata-kata yang
disingkatnya. Nah, faktor terpenting yang membedakan singkatan dan akronim
adalah penggunaan huruf besar dan kecil. Akronim cenderung ditulis sebagaimana
layaknya nama lembaga atau orang: diawali huruf besar, sisanya huruf kecil. Dan
membacanya tidak pernah dengan cara mengeja, melainkan selalu mengucapkannya
seperti membaca kata biasa. Misal, “Depdagri”.
Nah, lantas apa
yang menjadi salah kaprah? Ya itu tadi, penyalahgunaan huruf besar dan kecil.
Masyarakat cenderung menuliskan akronim dengan huruf besar semua. Misal, “Saya
kuliah di UNPAK.” Padahal yang betul seharusnya, “Saya kuliah di Unpak.” Karena
setiap huruf dalam kata “Unpak” bukan penyingkat. Yang menjadi penyingkat
adalah suku kata “Un” dan “Pak”.
Oya, satu hal yang
terpenting, jangan menggunakan sistem CamelCase dalam akronim, ya. Contoh
“Unpak”, jangan ditulis “UnPak”, meskipun bila ditulis tanpa disingkat, huruf P
pada “Pakuan” menggunakan huruf besar.
B.
PENYALAHGUNAAN
BEBERAPA KATA
1.
Ubah
atau Rubah?
“Kau boleh acuhkan
diriku… dan anggap ku tak ada… tapi takkan merubah…” Sebuah petikan lagu yang
sangat indah dari seorang Once. Saya pun suka. Tapi kata “merubah” itu lho…
mengganjal sekali! Mana sudah terlanjur “diakui” menjadi karya seni pula,
huft….
Yah, akuilah kalau
kita cenderung menggunakan kata “merubah” atau “dirubah” dalam kehidupan
sehari-hari. Mungkin “kambing hitam”-nya adalah kata “berubah” yang sudah
sangat familiar di telinga kita. Sehingga tanpa sadar kita kebiasaan
menerapkannya juga dalam imbuhan me- dan di-.
Padahal yang paling
tepat adalah “mengubah” dan “diubah”. Karena kata dasarnya adalah “ubah”. Coba
deh, cari kata “rubah” di kamus. Pasti definisinya mengenai sejenis hewan dan
tak ada sangkut-pautnya dengan “rubah” yang kita maksud. Mungkin bisa dimaafkan
bila kita keceplosan menggunakan kedua kata yang salah kaprah itu dalam
percakapan sehari-hari, tapi jangan sampai “keceplosan” menggunakannya dalam
karya tulis, yaaa…!
2. Tinggali dan Tinggalkan
“Ku mempunyai dua
hati yang tak bisa, ‘tuk kutinggali….” Pasti familiar dong, sama petikan lagu
nakal milik T2 ini. Ya, lagi-lagi ada kesalahkaprahan bahasa yang terlanjur
“diakui”. Memang, dalam beberapa kata, imbuhan belakang –kan dan –i tidak
benar-benar sepadan. Contoh, “membubuhkan” dan “membubuhi”. Yang membedakan
adalah, kata pertama cenderung merujuk pada apa yang dibubuhkan pada sesuatu,
maka kita ambil contoh kalimat: “Saya membubuhkan tanda tangan di kertas”.
Sementara pada kata kedua, mengacu pada apa sesuatu yang dibubuhi, maka bentuk
kalimat yang ideal adalah, “Saya membubuhi kertas dengan tanda tangan”. Mau
contoh lain? Oke, misalnya, “memasukkan” berarti si subjek membuat sesuatu
masuk ke dalam sesuatu, sementara “memasuki” artinya si subjek sendiri yang
masuk ke dalam sesuatu.
Nah, ketahuan dong,
kalau petikan syair T2 itu salah besar? Bahkan dari makna pun sudah berbeda
meski kata dasarnya sama. “Kutinggalkan” artinya si “aku” menjauh dari sesuatu,
sementara “kutinggali” berarti “aku” TINGGAL DI DALAM sesuatu. Mungkin
penggunaan kata “kutinggali” ini dimaksudkan agar senada dengan kata di bait
sebelumnya, yakni “dua hati”. Tapi rasanya nggak usah maksain juga kan, Mas
Dodhy? Atau memang Anda nggak tahu? ***sombong***
3. Kau-
“Kau” adalah salah
satu bentuk kata ganti orang kedua tunggal. Yang menjadi salah kaprah adalah
penggunaan kata “kau-” yang diikuti beberapa kata kerja tertentu. Sama seperti
“ku-”, kata “kau-” seharusnya digabung dengan kata kerja yang mengikutinya.
Misal, “kaupikir”, “kauambil”, “kaurasakan”, atau “kausimpan”. Tapi hal ini
tidak berlaku untuk kata ganti “kamu”, “Anda”, “sampeyan”, “ente”, “yey”, dan
lainnya karena “kau-” di sini sepadan dengan “ku-” (bukan “aku”).
4.
Geming,
Seronok, dan Acuh
Salah satu penyakit
berbahasa yang terparah adalah ketika makna suatu kata diubah menjadi sangat
kontradiktif dengan makna aslinya. Salah satunya “geming”. Makna asli dari kata
ini adalah “bertahan” atau “tetap pendirian”. Contoh kalimatnya: “Meski sudah
dibujuk, saya tetap bergeming.” Tapi belakangan maknanya diputarbalikkan
seratus delapan puluh derajat menjadi “berubah pendirian”. Contoh kalimat:
“Karena dipaksa sedemikian rupa, akhirnya dia bergeming.”
Di samping itu, ada
juga kata “seronok”. Entah siapa yang menyesatkan arti kata ini menjadi sangat
negatif. Mungkin karena penggalan bunyi kata “-ronok” yang tidak enak didengar
secara verbal, sehingga menimbulkan kesan bahwa kata “seronok” berarti “tidak
sopan” atau “tidak enak dipandang”. Padahal makna “seronok” justru “sopan” atau
“sedap dipandang”. Jadi, salah besar kalau ada yang bilang, “Pakaian pelacur
itu seronok sekali!”
Terakhir, ada lagi
kata yang maknanya seenaknya dibolak-balik laksana martabak emih. Yakni “acuh”.
Seperti kata “seronok”, mungkin bunyi kata “-cuh” itu yang menimbulkan asumsi
salah mengenai makna kata “acuh”. Pernah saya menemui kalimat, “Saya sakit hati
karena ucapan saya diacuhkan.” Lha, ucapan diacuhkan kok sakit hati, sih?
Harusnya senang dong, karena artinya ucapan tersebut DIPEDULIKAN
5. kata gabung
Ragam jurnalistik
ini banyak digunakan dalam persurat kabaran.
Kesalahan kalimat tersebut
terletak pada penulisan kata persurat kabaran. Memang betul, kata gabung
seperti surat kabar, tanggung jawab dan sebagainnya dituliskan terpisah. Tetapi
apabila kata-kata tersebut mendapat awalan dan akhiran, harus dituliskan
serangkai. Jadi penulisan yang betul: persuratkabaran, pertanggungjawaban.
Contoh lain:
·
memberi
tahu -> pemberitahuan
·
ambil
alih -> pengambilalihan
·
gotong
royong -> kegotongroyongasn
·
tidak
adil -> ketidakadilan
·
salah
guna -> disalahgunakan
·
jungkir
balik -> dijungkirbalikkan
6. menyingkat waktu
Untuk menyingkat
waktu, marilah kita mulai acara ini.
Waktu tidak dapat dipersingkat;
karena itu kalimat tersebut salah. Yang betul: Untuk menghemat waktu,
marilah kita mulai acara ini.
7. saling
Sebagai sesama
manusia, kita wajib saling tolong-menolong.
Kata saling sudah menunjuk
pengertian dilakulkan oleh dua belah pihak; sama benar dengan bentuk
tolong-menolong. Maka yang betul: sebagai sesama manusia, kita wajib saling
menolong; atau: sebagai sesama manusia, kita wajib tolong menolong.
Bentuk yang sejenis dengan bentuk tersebut.
Saling kejar-mengejar seharusnya: saling mengejar, kejar mengejar atau berkejar-kejaran.
Saling pegang-memegang seharusnya: saling memegang, pegang-memegang atau berpegang-pegangan.
Saling kejar-mengejar seharusnya: saling mengejar, kejar mengejar atau berkejar-kejaran.
Saling pegang-memegang seharusnya: saling memegang, pegang-memegang atau berpegang-pegangan.
Bentuk seperti di
atas, termasuk gejala pleonasme.
8. pelopor
Salah seorang yang
mempelopori berdirtinya koperasi di desa ini ialah bapak saya.
Yang betul memelopori.
Kata tersebut berasal dari kata dasar pelopor. Karena awalan me yang melekat
padanya, maka bunyi p-nya luluh; dan menjadi memelopori.
9. dipersilahkan
Para tamu
dipersilahkan masuk.
Kesalahan kalimat tersebut pada
penulisan kata dipersilahkan. Kata tersebut seharusnya dituliskan tanpa h: dipersilakan.
10. waktu dan tempat saya persilakan
Kalimat ini sering
sekali dipakai orang, padahal kalimat tersebut salah. Siapa yang biasannya
dipersilakan? Jawabannya tentu saja bukan waktu dan tempat, melainkan orangnya.
Karena itu, mestinya kalimat tersebut kita ubah:
Bapak atau
Saudara............saya persilakan.(isilah
titik-titik tersebut dengan nama orang atau pejabat yang akan memberi
sambutan).
Nah, itu baru
segelintir dari seluruh kesalahan tata bahasa yang sudah terlanjur menjadi
kebiasaan masyarakat kita. Kalau sampai kebiasaan ini mendarah daging dalam
diri anak cucu kita kelak, wah, bahaya tuh! Bisa-bisa bahasa Indonesia yang
baku benar-benar musnah di kemudian hari.
Memahami bahasa
Inggris sebagai bahasa internasional memang suatu keharusan. Tapi jangan sampai
jadikan hal itu sebagai alasan untuk bergaya sok keinggris-inggrisan. Kalau
masyarakat Indonesia sendiri banyak keliru dalam menggunakan bahasa Indonesia,
wah, lantas siapa yang harus melestarikan bahasa nasional kita ini? Orang
Amerika? Orang Malaysia? Orang Zimbabwe? Tidak mungkin, bukan?
Kaskus The Largest Indonesian Community
By Ali Sahiel
Posted in
Cerpen
Suatu
hari seorang doktor dari Amerika sedang kebingungan mencari kebenaran tentang
agama. Ia mencari ke sana kemari agama apakah yang paling benar. Ia bernama
John Wiseman. Ia dilahirkankan dari keluarga Kristen. Meskipun keluarganya
Kristen, tapi Ia tidak begitu yakin bahwa agama yang dianutnya adalah agama
yang paling benar. Oleh karena itu dia sedang dalam perjalanan mencari agama
yang paling benar.
Dalam
rangka mencari agama dia telah mengunjungi beberapa negara. Dan kebetulan sekarang
dia berada di Indonesia. Sebagai seorang yang berintelektual tinggi, John
lumayan mengetahui sejarah negara Indonesia yang dahulunya beragama Hindu dan
Budha kemudian datang agama Islam.
Karena
sekarang Indonesia mayoritas agama Islam, Ia sering kali mendengar suara adzan
yang berkumandang lima kali sehari di mana-mana. Ia merasa bahwa adzan sangat
indah untuk didengarkan. Oleh karena itu Ia tertarik mempelajari Islam terlebih
dahulu. Ia langsung mencari informasi tentang Islam.
“Excusme,
can you speak English, Sir?” [1] tanyanya
kepada seseorang yang sedang menunggu bis di pinggir jalan.
“Yes,
I can. Can I help you?” [2] jawabnya.
“My
name’s John, John Wiseman. I came from America. And I wanna learn about Islam,[3]” dari kata yang
digunakannya terlihat dia orang Amerika.
“I
think you should got to Cirebon city in West Java, and then you can find
Babakan village. And there you can learn about Islam.” [4]
“Thank’s,
Sir.”[5]
“You’re
welcome.”
Ia
mendapat informasi bahwa untuk mempelajari agama Islam Ia harus pergi ke
Cirebon, tepatnya Babakan Ciwaringin Cirebon. Mendengar informasi itu, Ia
langsung pergi ke tempat yang ditunjukan.
Sesampainya
di Babakan, Ia langsung mencari guru yang tepat untuk mengajarkan Islam
kepadanya. Bertemulah Ia dengan Ustadz Shidiq. Ustadz Shidiq adalah seorang
ustadz yang sangat luas ilmunya. Setelah lulus sekolah tingkat aliyah di desa
setempat, beliau melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Di samping
beliau fasih bahasa Arab, beliau juga pandai bahasa Inggris. Oleh karena itu
beliau bia dengan leluasa berbincang-bincang dengan John.
“Excusme,
can you speak English, Sir?” tanya John kepada Ustadz Shidiq.
“Sure.
What can I do for you, Mister?”[6] jawab Ustadz
Shidiq yang kemudian beliau balik bertanya.
“I
got an information that in here I can learn about islam. Is that true?[7]”
“That
is right.”[8]
“Okay,
can you teach me?”[9]
“Of
course, with plesure.”[10]
“Thank
you very much. I’m John, by the way, John Wiseman. I came from America.”[11]
“Nice
to meet you. My name is Shidiq, peoples called me Ustadz Shidiq.”[12]
"Alright,
Ustadz Shidiq. When I can meet you again?"[13]
"What
about tomorrow?"[14]
"That's
a good idea."[15]
"By
the way, where do you live now?"[16]
"I
don't have place for live now, but i'll find it soon."[17]
"Well,
you can live in my house."[18]
"Really?"[19]
"Yeah,
with pleasure."[20]
"Thank
you very much."[21]
"You're
welcome."[22]
Setelah
berkenalan, mereka berdua berjalan bersama menuju rumah Ustadz Shidiq.
Sesampainya di rumah Ustadz Shidiq, John diperkenalkan dengan keluarga Ustadz
Shidiq. Bagi John, keluarga Ustadz Shidiq sangat ramah. Mereka hidup bahagia
meski pun ekonomi keluarga mereka tidak sebaik John di Amerika.
Keesokan
harinya Ustadz Shidiq mulai mengajari John tentang Islam.
"Alright,
John, this is your first time learn about Islam, but before, you must say
'syahadat'."[23]
"What
is 'syahadat'?"[24]
"‘Syahadat’ is a two-sentence
which is a requirement to convert to Islam."[25]
“Okay,
what’s the first sentence?”[26]
“Reapet
after me, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’.”[27]
“Asyhadu
alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
“Good,
Now you've officially become a Moslem. Congratulation.”[28]
“Thank You.”
"The
daily worship."[30]
“Okay,
you got it,”[31]
Selanjutnya
John belajar ibadah sehari-hari. Ustadz Shidiq mengajarinya secar detil, bahkan
tata cara ibadah menurut madzahibul arba’ah pun beliau ajarkan
kepadanya.
Sepintas
apa yang dilakukan Ustadz Shidiq kepada John adalah benar, tapi ternyata tidak.
Beliau melewatkan ilmu yang paling pokok dari segala ibadah, yaitu tauhid.
Tidak ada gunanya seseorang beribadah tanpa mengenal apa yang mereka sembah,
tidak tahu sifat wajib-Nya, sifat mustahil dan jaiz-Nya. Yang timbul hanyalah
kehampaan dan kebingungan dalam hati mereka yang tidak mengenal Tuhan mereka. Mereka pada
akhirnya akan bertanya-tanya seperti apakah wujud Allah yang sebenarnya.
Padahal pertanyaan seperti itu sangat dilarang dalam ilmu tauhid. Dan pada
akhirnya imannya goyah. Dan itulah yang terjadi pada diri John Wiseman setelah
tiga bulan menjadi murid Ustadz Shidiq.
Setiap
malam John hanya berpikir bagaimana wujud Allah yang sesungguhnya. Di saat
seperti itu Ia jadi teringat Tuhannya yang dulu. Memang salib sangat gampang
dilihat. Tapi inilah yang perlu kita imani dalam hati. Meski pun kita belum
bisa melihat Tuhan kita, tapi kita harus tetap percaya kepada-Nya. Karena Dia
ada bersama kita di setiap hembus nafas kita.
Akhirnya,
John Wiseman mengadukan keluhannya kepada Ustadz Shidiq.
“Ustadz
Shidiq, I wanna say something.”[32]
“Okay,
what’s that?”[33]
"After
all these months, you teach me about Islam. And now I'm getting confused. Before
I pray to God, I had to think first of which one should I choose. And it made
me more confused. And I decided to leave Islam and i'll search other
religions easier to understand. Maybe this made your heart broke, but I've
thought about it carefully, since the first time you teach me to say
‘shahadat’. I'm so sorry."[34]
Mendengar
kata-kata John, Ustadz Shidiq membisu, beliau tidak bisa berkata apa-apa.
Akhirnya beliau pun mengikhlaskannya.
Pelajarannya
adalah siapa pun orangnya, apa pun gelar akademiknya, seberapa pun kuat
tekadnya belajar Islam, yang pertama harus diajarkan adalah ilmu dasar, yaitu
tauhid. Mengajarkannya pun harus dengan hati. Jangan sampai muallaf yang kita
ajari mengalami kebingungan seperti John Wiseman yang akhirnya kembali kepada
agamanya yang dulu.
Based On True Story
[1]
“Permisi, apakah anda bisa bicara bahasa Inggris, Pak?”
[2] “Ya,
saya bisa. Bisakah saya membantu anda?”
[3] “Nama
saya John, John Wiseman. Saya berasal dari Amerika. Dan saya ingin belajar
tentang Islam.”
[4] “Saya
pikir anda harus pergi ke Cirebon di Jawa Barat, dan kemudian anda bisa
menemukan desa Babakan. Dan disana anda bisa belajar tentang Islam.”
[5] “Terima
Kasih, Pak.”
[6] “Tentu.
Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, Tuan?”
[8] “Itu
benar.”
[9]
“Baiklah. Bisakah kau mengajariku?”
[10] “Tentu
saja, dengan senang hati.”
[11] "Terima kasih banyak. Ngomong-ngomong, nama saya John, John Wiseman. Saya datang dari
Amerika.”
[13]
“Baiklah, Ustadz Shidiq. Kapan saya bisa menemui anda lagi?”
[14]
“Bagaimana kalau besok?”
[15] “Ide
bagus.”
[16]
“Ngomong-ngomong, di mana anda tinggal sekarang?”
[17] “Saya
belum punya tempat tinggal, tapi saya akan segera menemukannya.”
[18] “Nah,
anda bisa tinggal di rumah saya.”
[19]
“Benarkah?”
[20] “Ya,
dengan senang hati.”
[21] “Terima
kasih banyak.”
[22]
“Sama-sama.”
[23]
“Baiklah, John, ini kali pertamamu mempelajari Islam, tapi sebelumnya kau haus
mengucapkan ‘syahadat’.”
[24] “Apa
itu ‘syahadat’?”
[25]
“’Syahadat’ adalah dua kalimat yang mana itu adalah syarat untuk masuk Islam.”
[26]
“Baiklah, bagaimana kalimat pertamanya?”
[27] “Ikuti
ucapanku, ‘Asyhadu alla ilaha allallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’.”
[28] “Bagus,
sekarang kau sudah resmi masuk Islam. Selamat.”
[29]
“Sekarang, apa yang ingin kau pelajari?”
[30] “Ibadah
sehari-hari.”
[31]
“Baiklah, kau mendapatkannya.”
[32] “Ustadz
Shidiq, aku ingin mengatakan sesuatu.”
[33] “Apa
itu?”
[34]
“Setelah beberapa bulan ini, kau mengajariku tentang Islam. Dan sekarang aku
semakin bingung. Sebelum aku beribadah kepada Tuhan, terlebih dahulu aku harus
berpikir mazhab mana yang harus kupilih. Dan itu membuatku semakin bingung. Dan
aku memutuskan untuk keluar dari Islam dan aku akan mencari agama lain yang
lebih mudah dimengerti. Mungkin ini membuatmu sakit hati, tapi aku telah
memikirkannya matang-matang, sejak pertama kali kau mengajariku mengucapkan
‘syahadat’. Aku sangat minta maaf.”
By Ali Sahiel
Posted in
Cerpen
Suatu hari,
pada tahun 2002, Pondok Pesantren Sabilun Najah mendapat sumbangan dari Depag
(Departemen Agama) berupa dua gulungan karpet besar berukuran kurang lebih 100
m2 per satu karpet, cukup
untuk mengalasi masjid pondok.
Dan ya, karpet
itu digunakan sebagai alas di masjid Sabilun Najah. Selama kuarang lebih dua
bulan, karpet itu belum mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Insiden pun
terjadi pada bulan berikutnya.
Seperti halnya
di pondok-pondok lain yang memiliki masjid, santri pondok Sabilun Najah pun
sering tidur di masjid. Dan karena itulah sesuatu yang tidak diinginkan
terjadi. Pada suatu malam Jum’at, ketika banyak santri tidur di masjid, ada
seorang santri yang ngompol, atau lebih tepatnya kencing sambil tidur, dan celakanya
air kencingnya mengenai karpet.
Seperti
diketahui, air kencing adalah salah satu najis mutawasithah, maka
keesokan harinya setelah terkena air kencing, karpet pun dicuci. Karena
ukurannya yang besar, tidak cukup satu orang yang mengangkat karpet tersebut,
dibutuhkanlah dua puluh orang untuk mengangkatnya. Dan tidak hanya itu,
mencucinya pun butuh waktu yang lama, kurang lebih dua belas jam dari pagi
sampai sore.
Setelah
selesai, pada sore hari menjelang maghrib, karpet di jemur di tengah-tengah
lapangan pondok yang memang cukup luas. Lagi-lagi sesuatu terjadi. Butuh waktu
yang sangat lama untuk mengeringkan karpet tersebut. Kurang lebih setengah
bulan menjemur, waktu yang dibutuhkan untuk membuat karpet kering sempurna.
Setelah kering,
karpet dipasang kembali sebagai alas di masjid. Dan tragedi pun terulang.
Karpet itu dikencingi lagi. Kambali para santri mencucinya dari pagi sampai
sore. Dan dijemur lagi selama lima belah hari.
Supaya kejadian
itu tidak terulang untuk ketiga kalinya, pengurus pondok pun rapat. Dan
hasilnya, karpet harus disimpan di gudang mushalla sesepuh pesantren yang sudah
meninggal sepuluh tahun lalu yang jarak dari pondok ke mushalla tersebut
sekitar satu kilometer ke arah selatan.
Untuk beberapa
bulan, karpet aman di gudang mushalla.
Tetapi
muncullah santri yang sedikit iseng. Ia dan teman-teman sekamarnya ingin
memberikan alas di kamar mereka. Dan mereka pun pada suatu malam sambil membawa
gerobak, mereka pergi ke mushalla tersebut. Kemudian mereka memotong karpet
hingga ukuran 16 m2.
Setelah
kejadian itu, santri lain pun meniru. Dan sekarang karpet yang asalnya 100 m2
menjadi ukuran yang kecil-kecil, dari mulai ukuran 4x4 meter sampai 0,5x1
meter.
By Ali Sahiel
Posted in
Cerpen
Akhirnya
sampai juga di Jepara. Sekarang aku harus mencari pesantren yang tepat untuk
mondok.
Setelah
lama berkeliling kurasa aku menemukan pesantren yang tepat, namanya Pondok
Pesantren Darun Faqih. Pondoknya besar, dan kata masyarakat sekitar pengasuh
pondok ini sangat rendah hati meskipun beliau sangat kaya ilmu dan hartanya.
Zaman sekarang sudah jarang ada kiai seperti itu. Kebanyakan kiai sekarang
hanya mementingkan harta dari pada santri mereka sendiri. Mungkin ini
kesempatan saya untuk mengambil barakah dari beliau.
Aku
langsung menemui kiai di kediamannya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum
Salam.”
“Kiai,
nama saya Abdullah, saya mau mondok di sini.”
“O,
silahkan. Kamu dari mana?”
“Cirebon,
Kiai.”
“Jauh
juga ternyata.”
“Mari,
lihat-lihat pondok, untuk menentukan kamar yang kau sukai untuk ditinggali.”
“Kiai,
kalau bisa, sambil belajar di pondok ini, saya juga ingin bantu-bantu di rumah
Kiai. Apakah boleh?”
“Tentu
saja boleh. Jarang-jarang ada santri sepert kamu Abdullah.”
“Terima
kasih, Kiai.”
Ternyata
benar yang dikatakan orang-orang, Kiai Saleh ini sangat rendah hati saat
menerima tamu, walau pun tamunya hanya orang biasa seperti saya ini.
Setelah
lihat-lihat pondok, aku menemukan tempat yang tepat untuk tinggal. Kamarnya
dekat dengan masjid dan toilet. Ruangannya luas, nyaman untuk beristirahat.
Udaranya pun sejuk, sangat nyaman untuk belajar dan menghafal. Dan
orang-orangnya sangat ramah, sangat tepat untuk saling tukar menukar ilmu dan
pengalaman. Sebenarnya tidak masalah untukku mau ditempatkan di kamar mana
saja, tapi kalau disuruh memilih, tentu aku memilih kamar yang nyaman.
Keesokan
harinya ada seorang santri yang kelihatannya mondoknya sudah lawas
mencariku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum
Salam.”
“Apakah sampeyan
Abdullah?”
“Iya,
benar.”
“Saya
disuruh Kiai untuk memanggil Mas ke rumahnya.”
“Baiklah,
tunggu sebentar, Mas.”
Aku
langsung berpakaian rapi untuk menemui Kiai. Tapi, ada apa Kiai memanggilku?
Ah, jangan dipikirkan. Nanti juga aku tahu sendiri.
“Mas,
ngomong-ngomong, nama Mas siapa?”
“Saya
Ahmad, orang dalam Kiai.”
“Sudah
berapa lama sampeyan mondok disini?”
“Kurang
lebih lima belas tahun.”
“Wah,
lama juga.”
Ketika
sampai di kediaman Kiai, aku langsung ditemui Kiai.
“Abdullah,
kamu bisa nyetir mobil nggak?” tanya Kiai kepadaku. Aku langsung kaget
mendengarnya.
“Alhamdulillah,
saya bisa.”
“Kalau
begitu kamu menjadi supir pribadi saya.”
“Memangnya
tidak ada yang lain?” aku sedikit menolak, hanya basa-basi.
“Sebenarnya
saya sendiri bisa nyetir, tapi saya sudah terlalu tua jadi pandangan saya sudah
tidak fokus kalau melihat jalanan. Dan pembantu saya yang lain tidak ada yang
bisa menyetir mobil.”
“Baiklah
kalau begitu, dengan senang hati.”
Aku
kembali ke kamarku dengan perasaan senang sedikit kecewa. Sebenarnya bukan ini
yang aku harapkan, tapi tak apalah, yang penting aku bisa mengambil barakah
dari beliau.
Keesokan
harinya Mas Ahmad kembali mencariku.
“Mas,
sampeyan disuruh ke rumah Kiai.”
Ketika
sampai Kiai menyuruhku mengantar beliau.
“Sekarang
kamu antar saya ke Bumiayu, saya mau sillaturrahmi ke pondok Al-Hikmah, sudah
lama saya tidak ke sana.”
Waduh!!!
Aku langsung disuruh mengantar beliau ke Bumiayu. Sebenarnya aku sedang malas
bepergian, tapi karena ini perintah dari Kiai, maka aku harus siap.
Aku
menyetir mobil Kiai dengan sedikit canggung, bukan karena ini pertama kali aku
menyetir mobil, tapi aku takut ditanya macam-macam. Takut ketahuan identitas
asliku. Dan ternyata terjadi juga.
“Bapakmu
kerja apa?” tanya Kiai yang membuat aku bingung menjawabnya.
“Mmm,
petani Kiai,” aku terpaksa berbohong karena takut ketahuan idenitas asliku.
“Kamu
belajar nyetir mobil dari mana?” tanya Kiai lagi.
“Dulu
aku saya supir angkot,” aku terpaksa berbohong lagi.
“Jadi
supir angkot bisa dapat SIM?”
“Alhamdulillah,
bisa.”
“Sebagai
anak muda, caramu menyetir enak juga dan tidak ugal-ugalan. Supirku dulu sering
menyetir ugal-ugalan.”
“Terima
kasih, Kiai.”
Tak
terasa kami sudah sampai di pondok Al-Hikmah. Untung saja aku hafal jalan dari
Jepara ke Bumiayu, kalu tidak, bisa gawat. Sementara Kiai masuk ke pondok aku
hanya menunggu di luar. Tak apa, kalau masuk ke dalam takutnya aku hanya
membuat malu saja. Sambil menunggu tak ada salahnya berkeliling sebentar, jajan
di warung dan sebagainya. Ada hikmahnya juga menjadi supir, apalagi supir kiai
besar seperti Kiai Saleh.
“Ayo
kita pulang, Abdullah,” tiba-tiba suara Kiai yang lembut mengagetkan lamunanku.
“Baik,
Kiai,” jawabku singkat.
Di
perjalanan pulang, kami mampir di warung nasi yang lumayan besar dan makanannya
enak-enak. Kami pun makan bersama. Satu lagi hikmah yang bisa dipetik dari pekerjaan
menjadi supir, yaitu menjadi lebih akrab dengan kiai.
“Kapan-kapan
kalau saya mau pergi ke Bandung atau Jakarta, mampir ke rumah kamu ya.”
Sial,
ternyata yang aku khawatirkan bisa terjadi juga. Ya sudah lihat nanti saja,
kalau memang sudah harus bertemu mau gimana lagi.
Pada
suatu hari Jum’at, jam sebelas siang, aku pergi ke sumur santri untuk mandi
sunnah Jum’at. Setelah setelai aku berpakaian. Dan jam setengah dua belas aku
baru berangkat ke masjid. Dan tiba-tiba seorang santri mengagetkanku.
“Mas,
supir saja pakaiannya gaya,” katanya.
Memang
untuk shalat Jum’at kali ini aku terlalu bergaya dengan mengenakan jas dan
sarung “BHS”. Aku jadi malu.
“Ini
pakaian pemberian tetangga, aku dikasih sebelum berangkat kesini,” dan aku
berbohong lagi.
Sebenarnya
pakaian ini memang punyaku, aku mengatakan demikian karena tidak mau sombong.
Semoga Allah mengampuni omonganku. Amin.
Selama
aku mondok di sini aku tidak hanya menjadi supir. Tapi juga menjadi tukang cuci
mobil. Tapi, keistimewaannya adalah aku dibebaskan untuk mengambil makan di
belakang rumah Kiai Saleh.
“Mas,
dipanggil Kiai,” kata Mas Ahmad.
“Ada
apa?” tanyaku.
“Gak
tahu, Mas. Kayaknya sih disuruh nyupir.”
Aku
langsung menuju kediaman Kiai Saleh. Ternyata benar apa yang dikatakan Mas
Ahmad.
“Antar
saya ke Bandung, tapi sebelumnya mampir dulu ke rumahmu. Kamu hafal jalannya
‘kan?”
“Hafal,
Kiai.”
“Silahkan
ke kamar dulu, siap-siap.”
Waduh!!
Sial!! Harus dimampirkan ke mana Kiai Saleh ini. Mungkin ini sudah waktunya
Kiai Saleh bertemu keluargaku.
Ketika
sampai Cirebon, karena aku sudah capek berbohong, aku langsung menyusuri jalan
menuju rumahku di desa Babakan Ciwaringin Cirebon.
“Lho,
ini daerah pesantren?” kata Kiai keheranan.
Setelah
sampai rumah, aku mempersilahkan Kiai masuk. Tapi, beliau masih heran karena
yang beliau masuki adalah rumah Kiai Muhammad, salah satu kiai terkemuka di
daerah setempat.
Sebenarnya
aku adalah putra Kiai Muhammad. Aku sengaja menyembunyikan identitasku supaya
aku bisa merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai seorang pembantu kiai. Dan
sekarang aku sudah tahu rasanya.
“Kiai,
ini ayah saya, Kiai Muhammad,” aku memperkenalkan ayahku kepada Kiai Saleh yang
ternyata mereka berdua sudah saling kenal.
“Jadi,
anakku Abdullah mondok di pondok sampeyan,” ayahku kaget setelah mendengar
cerita dari Kiai Saleh.
“Benar,
dan anakmu luar biasa, dia tidak sombong kepada santri-santri lain karena dia
anak kiai besar. Ngomong-ngomong kenapa sampeyan tidak tahu di mana anak
sampeyan mondok?” tanya Kiai Saleh kepada ayahku.
“Aku
tidak tahu karena dia bilang dia ingin berkelana sambil mondok di suatu
tempat,” jawab ayahku.
“Pantas
saja.”
Sementara
mereka berdua asyik berbincang-bincang, aku minta diri kepada ayahku untuk
menemui adik-adikku tercinta. Aku sudah kangen kepada mereka.
“Mas,
maaf saya harus cepat pergi, saya ada urusan di Bandung dan sekarang saya harus
ke sana,” kata Kiai Saleh mengakhiri obrolan.
“Kalau
begitu silahkan, semoga selamat di jalan.”
“Sebelumnya
saya minta maaf menjadikan anak sampeyan supir.”
“Tidak
apa-apa, saya malah senang karena dengan membantu kiai lain anak saya menjadi
tidak sombong.”
“Wassalamualaikum.”
“Walaikum
Salam.”
Setelah
Kiai Saleh yang berpamitan kepada ayahku, kini giliranku. Setelah pamit, aku
meminta maaf kepada Kiai Saleh.
“Kiai,
maafkan saya karena saya banyak berbohong kepada Kiai.”
“Tidak
apa-apa, saya malah senang punya santri seperti kamu.”
Kemudian
kami melanjutkan perjalanan ke Bandung dan kembali ke Jepara.
Setelah
Kiai Saleh bertemu keluargaku, kehidupanku di pondok menjadi sedikit berubah.
Biasanya aku mengambil makananku sendiri, sekarang malah makanannya diantarkan
kepadaku.




















