Follow me on Twitter RSS FEED

Pages

"C"

Posted in














10 Aktor Hollywood Dengan Upah Tertinggi

Posted in
1.    Tom Cruise
 Aktor yang pekan ini menjadi bahan perbincangan karena prahara rumah tangga ternyata memiliki penghasilan terbesar dari semua jajaran aktor Hollywood.
 Dilansir melalui Forbes, dalam satu judul film Tom Cruise terima Rp 701 miliar. Film terbarunya akan segera rilis akhir tahun nanti, film drama kriminal tersebut bertajuk JACK REACHER.
2.    Leonardo DiCaprio
 Meski film terbarunya berjudul J EDGAR gagal di Oscar maupun pemasukan finansial, tak membuat citra Leonardo DiCaprio memburuk. Terbukti, aktor yang mulai dikenal lewat TITANIC ini mendapat peringkat kedua sebagai aktor dengan bayaran termahal.
 Forbes menyebutkan jika upah DiCaprio dalam satu judul film adalah Rp 346 miliar. Proyek selanjutnya yang bakal rilis adalah THE GREAT GATSBY. Rencananya film ini bakal tayang dalam bentuk 3D.
3.    Dwayne Johnson
 Aktor yang awalnya dikenal dengan nama panggung The Rock ini mulai menancapkan taringnya di jagad perfilman. Dengan upah Rp 366 miliar dalam satu film, Dwayne Johnson menduduki peringkat sebagai aktor berpenghasilan termahal ketiga.
 Film teranyarnya bertajuk GI JOE 2 yang terjadwal rilis musim panas terpaksa diundur tahun depan karena berbagai alasan.
4.    Ben Stiller
 Aktor Ben Stiller menduduki peringkat keempat dengan penghasilan Rp 308 miliar dalam satu judul film. Komedian satu ini mendapatkan banyak untung lewat filmnya bertajuk MEET THE PARENTS dan NIGHT AT THE MUSEUM. Jangan lupakan pula trilogi MADAGASCAR di mana Stiller menjadi pengisi suara.
5.    Sacha Baron Cohen
 Meski tampak jarang bermain film, Sacha Baron Cohen mampu menduduki peringkat kelima. Pasalnya dalam satu produksi film, bintang THE DICTATOR ini diupah $30 juta atau sekitar Rp 280,5 miliar.
6.    Johnny Deep
 Aktor yang dikabarkan tengah dekat dengan aktris biseksual Amber Heard ini menduduki peringkat selanjutnya. Dalam satu judul film, mantan pasangan kumpul kebo Vanessa Paradis ini mampu hasilkan Rp 280,5 miliar.
 Tahun ini usai merilis DARK SHADOWS, Depp bakal tampil dalam film bertajuk THE LONE RANGER. Depp diplot sebagai Tonto dalam film arahan Gore Verbinski tersebut.
7.    Will Smith
 Will Smith kembali ramaikan musim panas dengan bintangi film bertajuk MEN IN BLACK III. Sejauh ini, film tersebut sudah mendapat pemasukan sebanyak 5,6 triliun dari seluruh dunia.
 Menurut Forbes, dalam satu judul film Smith mendapat upah sebesar Rp 280,5 miliar.
8.    Mark Wahlberg
 Rp 252 miliar adalah jumlah gaji yang disepakati oleh mantan rocker yang memiliki empat anak ini. Usai THE FIGHTER yang mendapat banyak pujian, Mark Wahlberg terus-menerus bintangi banyak film.
 TED adalah film terbaru yang dibintangi Mark. Tanpa disangka film ini memperoleh pemasukan yang cukup baik diawal perilisan.
9.    Robert Pattinson 
 Asal tahu saja, sebelum dikenal sebagai Edward Cullen dalam TWILIGHT, Robert Pattinson pernah perankan Cedric Digory, salah satu pemain Quidditch asrama Gryffindor.Sama dengan rekan satu film, Taylor Lautner, R-Patz mendapat upah Rp 247,775 miliar dalam satu kali produksi film.
 Seolah ingin lepas dari image vampir rekaan Stephenie Meyer, R-Patz membintangi banyak film-film serius meski hasil box office tak pernah sesukses TWILIGHT.
10.    Taylor Lautner
 Di urutan buncit berdiri aktor yang dikenal lewat TWILIGHT. Dia adalah Taylor Lautner.
 Seperti dicatat oleh Forbes, aktor yang pernah membintangi film action bertajuk ABDUCTION bersama Lily Colins ini menerima upah $26,5 juta atau sekitar Rp 247,775 miliar.
 Proyek selanjutnya usai BREAKING DAWN PART 2 yang akan rilis November mendatang. Setelah itu Lautner bakal membintangi GROWN UPS 2 dan TRACERS.

KapanLagi.com

Kesalahan Tata Bahasa Indonesia

Posted in

Dalam kehidupan sehari-hari saya seringkali menemukan penggunaan bahasa Indonesia yang keliru. Saya mungkin bukan mahasiswa jurusan sastra Indonesia, tapi saya ingin mencoba membantu memaparkan contoh-contoh penggunaan bahasa yang salah dan menyalahi kaidah bahasa Indonesia, dan sudah terlanjur menjadi budaya umum…
A.     PENULISAN SINGKATAN DAN AKRONIM
Singkatan merupakan perpendekan serangkaian kata ke dalam bentuk beberapa huruf. Kata-kata yang dimaksud biasanya merujuk kepada nama lembaga, bidang studi, nama tempat, atau istilah. Umumnya huruf-huruf yang membentuknya adalah huruf-huruf awal dari kata-kata tersebut. Cara membacanya pun beragam, tergantung huruf-huruf yang membentuknya. Misal, “IPA” akan diucapkan “I-Pa” karena memiliki huruf vokal “A” di belakang . Rasanya kita jarang sekali mendengar orang menyebut “I-P-A”. Namun “IPS” akan dibaca “I-P-S” karena terdiri dari dua huruf mati atau konsonan yang mengakhiri singkatan. Mustahil rasanya saat ditanya mengenai jurusan, orang menjawab, “Saya jurusan Ipssss!”
Tapi masyarakat kita seringkali mengasosiasikan akronim sebagai singkatan. Meski fungsinya sama-sama sebagai penyingkat, tapi akronim memiliki bentuk yang berbeda dengan singkatan. Akronim dibentuk dari kumpulan suku kata dari kata-kata yang disingkatnya. Nah, faktor terpenting yang membedakan singkatan dan akronim adalah penggunaan huruf besar dan kecil. Akronim cenderung ditulis sebagaimana layaknya nama lembaga atau orang: diawali huruf besar, sisanya huruf kecil. Dan membacanya tidak pernah dengan cara mengeja, melainkan selalu mengucapkannya seperti membaca kata biasa. Misal, “Depdagri”.
Nah, lantas apa yang menjadi salah kaprah? Ya itu tadi, penyalahgunaan huruf besar dan kecil. Masyarakat cenderung menuliskan akronim dengan huruf besar semua. Misal, “Saya kuliah di UNPAK.” Padahal yang betul seharusnya, “Saya kuliah di Unpak.” Karena setiap huruf dalam kata “Unpak” bukan penyingkat. Yang menjadi penyingkat adalah suku kata “Un” dan “Pak”.
Oya, satu hal yang terpenting, jangan menggunakan sistem CamelCase dalam akronim, ya. Contoh “Unpak”, jangan ditulis “UnPak”, meskipun bila ditulis tanpa disingkat, huruf P pada “Pakuan” menggunakan huruf besar.
B.     PENYALAHGUNAAN BEBERAPA KATA
1.      Ubah atau Rubah?
“Kau boleh acuhkan diriku… dan anggap ku tak ada… tapi takkan merubah…” Sebuah petikan lagu yang sangat indah dari seorang Once. Saya pun suka. Tapi kata “merubah” itu lho… mengganjal sekali! Mana sudah terlanjur “diakui” menjadi karya seni pula, huft….
Yah, akuilah kalau kita cenderung menggunakan kata “merubah” atau “dirubah” dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin “kambing hitam”-nya adalah kata “berubah” yang sudah sangat familiar di telinga kita. Sehingga tanpa sadar kita kebiasaan menerapkannya juga dalam imbuhan me- dan di-.
Padahal yang paling tepat adalah “mengubah” dan “diubah”. Karena kata dasarnya adalah “ubah”. Coba deh, cari kata “rubah” di kamus. Pasti definisinya mengenai sejenis hewan dan tak ada sangkut-pautnya dengan “rubah” yang kita maksud. Mungkin bisa dimaafkan bila kita keceplosan menggunakan kedua kata yang salah kaprah itu dalam percakapan sehari-hari, tapi jangan sampai “keceplosan” menggunakannya dalam karya tulis, yaaa…!
2.      Tinggali dan Tinggalkan
“Ku mempunyai dua hati yang tak bisa, ‘tuk kutinggali….” Pasti familiar dong, sama petikan lagu nakal milik T2 ini. Ya, lagi-lagi ada kesalahkaprahan bahasa yang terlanjur “diakui”. Memang, dalam beberapa kata, imbuhan belakang –kan dan –i tidak benar-benar sepadan. Contoh, “membubuhkan” dan “membubuhi”. Yang membedakan adalah, kata pertama cenderung merujuk pada apa yang dibubuhkan pada sesuatu, maka kita ambil contoh kalimat: “Saya membubuhkan tanda tangan di kertas”. Sementara pada kata kedua, mengacu pada apa sesuatu yang dibubuhi, maka bentuk kalimat yang ideal adalah, “Saya membubuhi kertas dengan tanda tangan”. Mau contoh lain? Oke, misalnya, “memasukkan” berarti si subjek membuat sesuatu masuk ke dalam sesuatu, sementara “memasuki” artinya si subjek sendiri yang masuk ke dalam sesuatu.
Nah, ketahuan dong, kalau petikan syair T2 itu salah besar? Bahkan dari makna pun sudah berbeda meski kata dasarnya sama. “Kutinggalkan” artinya si “aku” menjauh dari sesuatu, sementara “kutinggali” berarti “aku” TINGGAL DI DALAM sesuatu. Mungkin penggunaan kata “kutinggali” ini dimaksudkan agar senada dengan kata di bait sebelumnya, yakni “dua hati”. Tapi rasanya nggak usah maksain juga kan, Mas Dodhy? Atau memang Anda nggak tahu? ***sombong***
3.      Kau-
“Kau” adalah salah satu bentuk kata ganti orang kedua tunggal. Yang menjadi salah kaprah adalah penggunaan kata “kau-” yang diikuti beberapa kata kerja tertentu. Sama seperti “ku-”, kata “kau-” seharusnya digabung dengan kata kerja yang mengikutinya. Misal, “kaupikir”, “kauambil”, “kaurasakan”, atau “kausimpan”. Tapi hal ini tidak berlaku untuk kata ganti “kamu”, “Anda”, “sampeyan”, “ente”, “yey”, dan lainnya karena “kau-” di sini sepadan dengan “ku-” (bukan “aku”).
4.      Geming, Seronok, dan Acuh
Salah satu penyakit berbahasa yang terparah adalah ketika makna suatu kata diubah menjadi sangat kontradiktif dengan makna aslinya. Salah satunya “geming”. Makna asli dari kata ini adalah “bertahan” atau “tetap pendirian”. Contoh kalimatnya: “Meski sudah dibujuk, saya tetap bergeming.” Tapi belakangan maknanya diputarbalikkan seratus delapan puluh derajat menjadi “berubah pendirian”. Contoh kalimat: “Karena dipaksa sedemikian rupa, akhirnya dia bergeming.”
Di samping itu, ada juga kata “seronok”. Entah siapa yang menyesatkan arti kata ini menjadi sangat negatif. Mungkin karena penggalan bunyi kata “-ronok” yang tidak enak didengar secara verbal, sehingga menimbulkan kesan bahwa kata “seronok” berarti “tidak sopan” atau “tidak enak dipandang”. Padahal makna “seronok” justru “sopan” atau “sedap dipandang”. Jadi, salah besar kalau ada yang bilang, “Pakaian pelacur itu seronok sekali!”
Terakhir, ada lagi kata yang maknanya seenaknya dibolak-balik laksana martabak emih. Yakni “acuh”. Seperti kata “seronok”, mungkin bunyi kata “-cuh” itu yang menimbulkan asumsi salah mengenai makna kata “acuh”. Pernah saya menemui kalimat, “Saya sakit hati karena ucapan saya diacuhkan.” Lha, ucapan diacuhkan kok sakit hati, sih? Harusnya senang dong, karena artinya ucapan tersebut DIPEDULIKAN
5.      kata gabung
Ragam jurnalistik ini banyak digunakan dalam persurat kabaran.
Kesalahan kalimat tersebut terletak pada penulisan kata persurat kabaran. Memang betul, kata gabung seperti surat kabar, tanggung jawab dan sebagainnya dituliskan terpisah. Tetapi apabila kata-kata tersebut mendapat awalan dan akhiran, harus dituliskan serangkai. Jadi penulisan yang betul: persuratkabaran, pertanggungjawaban.
Contoh lain:
·         memberi tahu -> pemberitahuan
·         ambil alih -> pengambilalihan
·         gotong royong -> kegotongroyongasn
·         tidak adil -> ketidakadilan
·         salah guna -> disalahgunakan
·         jungkir balik -> dijungkirbalikkan

6.      menyingkat waktu
Untuk menyingkat waktu, marilah kita mulai acara ini.
Waktu tidak dapat dipersingkat; karena itu kalimat tersebut salah. Yang betul: Untuk menghemat waktu, marilah kita mulai acara ini.
7.      saling
Sebagai sesama manusia, kita wajib saling tolong-menolong.
Kata saling sudah menunjuk pengertian dilakulkan oleh dua belah pihak; sama benar dengan bentuk tolong-menolong. Maka yang betul: sebagai sesama manusia, kita wajib saling menolong; atau: sebagai sesama manusia, kita wajib tolong menolong. Bentuk yang sejenis dengan bentuk tersebut.
Saling kejar-mengejar seharusnya: saling mengejar, kejar mengejar atau berkejar-kejaran.
Saling pegang-memegang seharusnya: saling memegang, pegang-memegang atau berpegang-pegangan.
Bentuk seperti di atas, termasuk gejala pleonasme.
8.      pelopor
Salah seorang yang mempelopori berdirtinya koperasi di desa ini ialah bapak saya.
Yang betul memelopori. Kata tersebut berasal dari kata dasar pelopor. Karena awalan me yang melekat padanya, maka bunyi p-nya luluh; dan menjadi memelopori.
9.      dipersilahkan
Para tamu dipersilahkan masuk.
Kesalahan kalimat tersebut pada penulisan kata dipersilahkan. Kata tersebut seharusnya dituliskan tanpa h: dipersilakan.
10.  waktu dan tempat saya persilakan
Kalimat ini sering sekali dipakai orang, padahal kalimat tersebut salah. Siapa yang biasannya dipersilakan? Jawabannya tentu saja bukan waktu dan tempat, melainkan orangnya. Karena itu, mestinya kalimat tersebut kita ubah:
Bapak atau Saudara............saya persilakan.(isilah titik-titik tersebut dengan nama orang atau pejabat yang akan memberi sambutan).
Nah, itu baru segelintir dari seluruh kesalahan tata bahasa yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan masyarakat kita. Kalau sampai kebiasaan ini mendarah daging dalam diri anak cucu kita kelak, wah, bahaya tuh! Bisa-bisa bahasa Indonesia yang baku benar-benar musnah di kemudian hari.
Memahami bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memang suatu keharusan. Tapi jangan sampai jadikan hal itu sebagai alasan untuk bergaya sok keinggris-inggrisan. Kalau masyarakat Indonesia sendiri banyak keliru dalam menggunakan bahasa Indonesia, wah, lantas siapa yang harus melestarikan bahasa nasional kita ini? Orang Amerika? Orang Malaysia? Orang Zimbabwe? Tidak mungkin, bukan?

Kaskus The Largest Indonesian Community

Tidak Jadi Masuk Islam

Posted in

Suatu hari seorang doktor dari Amerika sedang kebingungan mencari kebenaran tentang agama. Ia mencari ke sana kemari agama apakah yang paling benar. Ia bernama John Wiseman. Ia dilahirkankan dari keluarga Kristen. Meskipun keluarganya Kristen, tapi Ia tidak begitu yakin bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar. Oleh karena itu dia sedang dalam perjalanan mencari agama yang paling benar.
Dalam rangka mencari agama dia telah mengunjungi beberapa negara. Dan kebetulan sekarang dia berada di Indonesia. Sebagai seorang yang berintelektual tinggi, John lumayan mengetahui sejarah negara Indonesia yang dahulunya beragama Hindu dan Budha kemudian datang agama Islam.
Karena sekarang Indonesia mayoritas agama Islam, Ia sering kali mendengar suara adzan yang berkumandang lima kali sehari di mana-mana. Ia merasa bahwa adzan sangat indah untuk didengarkan. Oleh karena itu Ia tertarik mempelajari Islam terlebih dahulu. Ia langsung mencari informasi tentang Islam.
“Excusme, can you speak English, Sir?” [1] tanyanya kepada seseorang yang sedang menunggu bis di pinggir jalan.
“Yes, I can. Can I help you?” [2] jawabnya.
“My name’s John, John Wiseman. I came from America. And I wanna learn about Islam,[3] dari kata yang digunakannya terlihat dia orang Amerika.
“I think you should got to Cirebon city in West Java, and then you can find Babakan village. And there you can learn about Islam.” [4]
“Thank’s, Sir.”[5]
“You’re welcome.”
Ia mendapat informasi bahwa untuk mempelajari agama Islam Ia harus pergi ke Cirebon, tepatnya Babakan Ciwaringin Cirebon. Mendengar informasi itu, Ia langsung pergi ke tempat yang ditunjukan.
Sesampainya di Babakan, Ia langsung mencari guru yang tepat untuk mengajarkan Islam kepadanya. Bertemulah Ia dengan Ustadz Shidiq. Ustadz Shidiq adalah seorang ustadz yang sangat luas ilmunya. Setelah lulus sekolah tingkat aliyah di desa setempat, beliau melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Di samping beliau fasih bahasa Arab, beliau juga pandai bahasa Inggris. Oleh karena itu beliau bia dengan leluasa berbincang-bincang dengan John.
“Excusme, can you speak English, Sir?” tanya John kepada Ustadz Shidiq.
“Sure. What can I do for you, Mister?”[6] jawab Ustadz Shidiq yang kemudian beliau balik bertanya.
“I got an information that in here I can learn about islam. Is that true?[7]
“That is right.”[8]
“Okay, can you teach me?”[9]
“Of course, with plesure.”[10]
“Thank you very much. I’m John, by the way, John Wiseman. I came from America.”[11]
“Nice to meet you. My name is Shidiq, peoples called me Ustadz Shidiq.”[12]
"Alright, Ustadz Shidiq. When I can meet you again?"[13]
"What about tomorrow?"[14]
"That's a good idea."[15]
"By the way, where do you live now?"[16]
"I don't have place for live now, but i'll find it soon."[17]
"Well, you can live in my house."[18]
"Really?"[19]
"Yeah, with pleasure."[20]
"Thank you very much."[21]
"You're welcome."[22]
Setelah berkenalan, mereka berdua berjalan bersama menuju rumah Ustadz Shidiq. Sesampainya di rumah Ustadz Shidiq, John diperkenalkan dengan keluarga Ustadz Shidiq. Bagi John, keluarga Ustadz Shidiq sangat ramah. Mereka hidup bahagia meski pun ekonomi keluarga mereka tidak sebaik John di Amerika.
Keesokan harinya Ustadz Shidiq mulai mengajari John tentang Islam.
"Alright, John, this is your first time learn about Islam, but before, you must say 'syahadat'."[23]
"What is 'syahadat'?"[24]
"‘Syahadat’ is a two-sentence which is a requirement to convert to Islam."[25]
“Okay, what’s the first sentence?”[26]
“Reapet after me, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’.”[27]
“Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
“Good, Now you've officially become a Moslem. Congratulation.”[28]
“Thank You.”
"Now, what do you want to learn?"[29]
"The daily worship."[30]
“Okay, you got it,”[31]
Selanjutnya John belajar ibadah sehari-hari. Ustadz Shidiq mengajarinya secar detil, bahkan tata cara ibadah menurut madzahibul arba’ah pun beliau ajarkan kepadanya.
Sepintas apa yang dilakukan Ustadz Shidiq kepada John adalah benar, tapi ternyata tidak. Beliau melewatkan ilmu yang paling pokok dari segala ibadah, yaitu tauhid. Tidak ada gunanya seseorang beribadah tanpa mengenal apa yang mereka sembah, tidak tahu sifat wajib-Nya, sifat mustahil dan jaiz-Nya. Yang timbul hanyalah kehampaan dan kebingungan dalam hati mereka yang  tidak mengenal Tuhan mereka. Mereka pada akhirnya akan bertanya-tanya seperti apakah wujud Allah yang sebenarnya. Padahal pertanyaan seperti itu sangat dilarang dalam ilmu tauhid. Dan pada akhirnya imannya goyah. Dan itulah yang terjadi pada diri John Wiseman setelah tiga bulan menjadi murid Ustadz Shidiq.
Setiap malam John hanya berpikir bagaimana wujud Allah yang sesungguhnya. Di saat seperti itu Ia jadi teringat Tuhannya yang dulu. Memang salib sangat gampang dilihat. Tapi inilah yang perlu kita imani dalam hati. Meski pun kita belum bisa melihat Tuhan kita, tapi kita harus tetap percaya kepada-Nya. Karena Dia ada bersama kita di setiap hembus nafas kita.
Akhirnya, John Wiseman mengadukan keluhannya kepada Ustadz Shidiq.
“Ustadz Shidiq, I wanna say something.”[32]
“Okay, what’s that?”[33]
"After all these months, you teach me about Islam. And now I'm getting confused. Before I pray to God, I had to think first of which one should I choose. And it made ​​me more confused. And I decided to leave Islam and i'll search other religions easier to understand. Maybe this made your heart broke, but I've thought about it carefully, since the first time you teach me to say ‘shahadat’. I'm so sorry."[34]
Mendengar kata-kata John, Ustadz Shidiq membisu, beliau tidak bisa berkata apa-apa. Akhirnya beliau pun mengikhlaskannya.
Pelajarannya adalah siapa pun orangnya, apa pun gelar akademiknya, seberapa pun kuat tekadnya belajar Islam, yang pertama harus diajarkan adalah ilmu dasar, yaitu tauhid. Mengajarkannya pun harus dengan hati. Jangan sampai muallaf yang kita ajari mengalami kebingungan seperti John Wiseman yang akhirnya kembali kepada agamanya yang dulu.

Based On True Story



[1] “Permisi, apakah anda bisa bicara bahasa Inggris, Pak?”
[2] “Ya, saya bisa. Bisakah saya membantu anda?”
[3] “Nama saya John, John Wiseman. Saya berasal dari Amerika. Dan saya ingin belajar tentang Islam.”
[4] “Saya pikir anda harus pergi ke Cirebon di Jawa Barat, dan kemudian anda bisa menemukan desa Babakan. Dan disana anda bisa belajar tentang Islam.”
[5] “Terima Kasih, Pak.”
[6] “Tentu. Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, Tuan?”
[7]Saya mendapat informasi bahwa di sini saya dapat belajar tentang islam. Apakah itu benar?”
[8] “Itu benar.”
[9] “Baiklah. Bisakah kau mengajariku?”
[10] “Tentu saja, dengan senang hati.”
[11] "Terima kasih banyak. Ngomong-ngomong, nama saya John, John Wiseman. Saya datang dari Amerika.”
[12] "Senang bertemu denganmu. Nama saya Shidiq, masyarakat memanggil saya Ustadz Shidiq. "
[13] “Baiklah, Ustadz Shidiq. Kapan saya bisa menemui anda lagi?”
[14] “Bagaimana kalau besok?”
[15] “Ide bagus.”
[16] “Ngomong-ngomong, di mana anda tinggal sekarang?”
[17] “Saya belum punya tempat tinggal, tapi saya akan segera menemukannya.”
[18] “Nah, anda bisa tinggal di rumah saya.”
[19] “Benarkah?”
[20] “Ya, dengan senang hati.”
[21] “Terima kasih banyak.”
[22] “Sama-sama.”
[23] “Baiklah, John, ini kali pertamamu mempelajari Islam, tapi sebelumnya kau haus mengucapkan ‘syahadat’.”
[24] “Apa itu ‘syahadat’?”
[25] “’Syahadat’ adalah dua kalimat yang mana itu adalah syarat untuk masuk Islam.”
[26] “Baiklah, bagaimana kalimat pertamanya?”
[27] “Ikuti ucapanku, ‘Asyhadu alla ilaha allallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’.”
[28] “Bagus, sekarang kau sudah resmi masuk Islam. Selamat.”
[29] “Sekarang, apa yang ingin kau pelajari?”
[30] “Ibadah sehari-hari.”
[31] “Baiklah, kau mendapatkannya.”
[32] “Ustadz Shidiq, aku ingin mengatakan sesuatu.”
[33] “Apa itu?”
[34] “Setelah beberapa bulan ini, kau mengajariku tentang Islam. Dan sekarang aku semakin bingung. Sebelum aku beribadah kepada Tuhan, terlebih dahulu aku harus berpikir mazhab mana yang harus kupilih. Dan itu membuatku semakin bingung. Dan aku memutuskan untuk keluar dari Islam dan aku akan mencari agama lain yang lebih mudah dimengerti. Mungkin ini membuatmu sakit hati, tapi aku telah memikirkannya matang-matang, sejak pertama kali kau mengajariku mengucapkan ‘syahadat’. Aku sangat minta maaf.”

Karpet Sumbangan

Posted in

Suatu hari, pada tahun 2002, Pondok Pesantren Sabilun Najah mendapat sumbangan dari Depag (Departemen Agama) berupa dua gulungan karpet besar berukuran kurang lebih 100 mper satu karpet, cukup untuk mengalasi masjid pondok.
Dan ya, karpet itu digunakan sebagai alas di masjid Sabilun Najah. Selama kuarang lebih dua bulan, karpet itu belum mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Insiden pun terjadi pada bulan berikutnya.
Seperti halnya di pondok-pondok lain yang memiliki masjid, santri pondok Sabilun Najah pun sering tidur di masjid. Dan karena itulah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Pada suatu malam Jum’at, ketika banyak santri tidur di masjid, ada seorang santri yang ngompol, atau lebih tepatnya kencing sambil tidur, dan celakanya air kencingnya mengenai karpet.
Seperti diketahui, air kencing adalah salah satu najis mutawasithah, maka keesokan harinya setelah terkena air kencing, karpet pun dicuci. Karena ukurannya yang besar, tidak cukup satu orang yang mengangkat karpet tersebut, dibutuhkanlah dua puluh orang untuk mengangkatnya. Dan tidak hanya itu, mencucinya pun butuh waktu yang lama, kurang lebih dua belas jam dari pagi sampai sore.
Setelah selesai, pada sore hari menjelang maghrib, karpet di jemur di tengah-tengah lapangan pondok yang memang cukup luas. Lagi-lagi sesuatu terjadi. Butuh waktu yang sangat lama untuk mengeringkan karpet tersebut. Kurang lebih setengah bulan menjemur, waktu yang dibutuhkan untuk membuat karpet kering sempurna.
Setelah kering, karpet dipasang kembali sebagai alas di masjid. Dan tragedi pun terulang. Karpet itu dikencingi lagi. Kambali para santri mencucinya dari pagi sampai sore. Dan dijemur lagi selama lima belah hari.
Supaya kejadian itu tidak terulang untuk ketiga kalinya, pengurus pondok pun rapat. Dan hasilnya, karpet harus disimpan di gudang mushalla sesepuh pesantren yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu yang jarak dari pondok ke mushalla tersebut sekitar satu kilometer ke arah selatan.
Untuk beberapa bulan, karpet aman di gudang mushalla.
Tetapi muncullah santri yang sedikit iseng. Ia dan teman-teman sekamarnya ingin memberikan alas di kamar mereka. Dan mereka pun pada suatu malam sambil membawa gerobak, mereka pergi ke mushalla tersebut. Kemudian mereka memotong karpet hingga ukuran 16 m2.
Setelah kejadian itu, santri lain pun meniru. Dan sekarang karpet yang asalnya 100 m2 menjadi ukuran yang kecil-kecil, dari mulai ukuran 4x4 meter sampai 0,5x1 meter.

Supir Kejutan

Posted in

Akhirnya sampai juga di Jepara. Sekarang aku harus mencari pesantren yang tepat untuk mondok.
Setelah lama berkeliling kurasa aku menemukan pesantren yang tepat, namanya Pondok Pesantren Darun Faqih. Pondoknya besar, dan kata masyarakat sekitar pengasuh pondok ini sangat rendah hati meskipun beliau sangat kaya ilmu dan hartanya. Zaman sekarang sudah jarang ada kiai seperti itu. Kebanyakan kiai sekarang hanya mementingkan harta dari pada santri mereka sendiri. Mungkin ini kesempatan saya untuk mengambil barakah dari beliau.
Aku langsung menemui kiai di kediamannya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum Salam.”
“Kiai, nama saya Abdullah, saya mau mondok di sini.”
“O, silahkan. Kamu dari mana?”
“Cirebon, Kiai.”
“Jauh juga ternyata.”
“Mari, lihat-lihat pondok, untuk menentukan kamar yang kau sukai untuk ditinggali.”
“Kiai, kalau bisa, sambil belajar di pondok ini, saya juga ingin bantu-bantu di rumah Kiai. Apakah boleh?”
“Tentu saja boleh. Jarang-jarang ada santri sepert kamu Abdullah.”
“Terima kasih, Kiai.”
Ternyata benar yang dikatakan orang-orang, Kiai Saleh ini sangat rendah hati saat menerima tamu, walau pun tamunya hanya orang biasa seperti saya ini.
Setelah lihat-lihat pondok, aku menemukan tempat yang tepat untuk tinggal. Kamarnya dekat dengan masjid dan toilet. Ruangannya luas, nyaman untuk beristirahat. Udaranya pun sejuk, sangat nyaman untuk belajar dan menghafal. Dan orang-orangnya sangat ramah, sangat tepat untuk saling tukar menukar ilmu dan pengalaman. Sebenarnya tidak masalah untukku mau ditempatkan di kamar mana saja, tapi kalau disuruh memilih, tentu aku memilih kamar yang nyaman.
Keesokan harinya ada seorang santri yang kelihatannya mondoknya sudah lawas mencariku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum Salam.”
Apakah sampeyan Abdullah?”
“Iya, benar.”
“Saya disuruh Kiai untuk memanggil Mas ke rumahnya.”
“Baiklah, tunggu sebentar, Mas.”
Aku langsung berpakaian rapi untuk menemui Kiai. Tapi, ada apa Kiai memanggilku? Ah, jangan dipikirkan. Nanti juga aku tahu sendiri.
“Mas, ngomong-ngomong, nama Mas siapa?”
“Saya Ahmad, orang dalam Kiai.”
“Sudah berapa lama sampeyan mondok disini?”
“Kurang lebih lima belas tahun.”
“Wah, lama juga.”
Ketika sampai di kediaman Kiai, aku langsung ditemui Kiai.
“Abdullah, kamu bisa nyetir mobil nggak?” tanya Kiai kepadaku. Aku langsung kaget mendengarnya.
Alhamdulillah, saya bisa.”
“Kalau begitu kamu menjadi supir pribadi saya.”
“Memangnya tidak ada yang lain?” aku sedikit menolak, hanya basa-basi.
“Sebenarnya saya sendiri bisa nyetir, tapi saya sudah terlalu tua jadi pandangan saya sudah tidak fokus kalau melihat jalanan. Dan pembantu saya yang lain tidak ada yang bisa menyetir mobil.”
“Baiklah kalau begitu, dengan senang hati.”
Aku kembali ke kamarku dengan perasaan senang sedikit kecewa. Sebenarnya bukan ini yang aku harapkan, tapi tak apalah, yang penting aku bisa mengambil barakah dari beliau.
Keesokan harinya Mas Ahmad kembali mencariku.
“Mas, sampeyan disuruh ke rumah Kiai.”
Ketika sampai Kiai menyuruhku mengantar beliau.
“Sekarang kamu antar saya ke Bumiayu, saya mau sillaturrahmi ke pondok Al-Hikmah, sudah lama saya tidak ke sana.”
Waduh!!! Aku langsung disuruh mengantar beliau ke Bumiayu. Sebenarnya aku sedang malas bepergian, tapi karena ini perintah dari Kiai, maka aku harus siap.
Aku menyetir mobil Kiai dengan sedikit canggung, bukan karena ini pertama kali aku menyetir mobil, tapi aku takut ditanya macam-macam. Takut ketahuan identitas asliku. Dan ternyata terjadi juga.
“Bapakmu kerja apa?” tanya Kiai yang membuat aku bingung menjawabnya.
“Mmm, petani Kiai,” aku terpaksa berbohong karena takut ketahuan idenitas asliku.
“Kamu belajar nyetir mobil dari mana?” tanya Kiai lagi.
“Dulu aku saya supir angkot,” aku terpaksa berbohong lagi.
“Jadi supir angkot bisa dapat SIM?”
Alhamdulillah, bisa.”
“Sebagai anak muda, caramu menyetir enak juga dan tidak ugal-ugalan. Supirku dulu sering menyetir ugal-ugalan.”
“Terima kasih, Kiai.”
Tak terasa kami sudah sampai di pondok Al-Hikmah. Untung saja aku hafal jalan dari Jepara ke Bumiayu, kalu tidak, bisa gawat. Sementara Kiai masuk ke pondok aku hanya menunggu di luar. Tak apa, kalau masuk ke dalam takutnya aku hanya membuat malu saja. Sambil menunggu tak ada salahnya berkeliling sebentar, jajan di warung dan sebagainya. Ada hikmahnya juga menjadi supir, apalagi supir kiai besar seperti Kiai Saleh.
“Ayo kita pulang, Abdullah,” tiba-tiba suara Kiai yang lembut mengagetkan lamunanku.
“Baik, Kiai,” jawabku singkat.
Di perjalanan pulang, kami mampir di warung nasi yang lumayan besar dan makanannya enak-enak. Kami pun makan bersama. Satu lagi hikmah yang bisa dipetik dari pekerjaan menjadi supir, yaitu menjadi lebih akrab dengan kiai.
“Kapan-kapan kalau saya mau pergi ke Bandung atau Jakarta, mampir ke rumah kamu ya.”
Sial, ternyata yang aku khawatirkan bisa terjadi juga. Ya sudah lihat nanti saja, kalau memang sudah harus bertemu mau gimana lagi.
Pada suatu hari Jum’at, jam sebelas siang, aku pergi ke sumur santri untuk mandi sunnah Jum’at. Setelah setelai aku berpakaian. Dan jam setengah dua belas aku baru berangkat ke masjid. Dan tiba-tiba seorang santri mengagetkanku.
“Mas, supir saja pakaiannya gaya,” katanya.
Memang untuk shalat Jum’at kali ini aku terlalu bergaya dengan mengenakan jas dan sarung “BHS”. Aku jadi malu.
“Ini pakaian pemberian tetangga, aku dikasih sebelum berangkat kesini,” dan aku berbohong lagi.
Sebenarnya pakaian ini memang punyaku, aku mengatakan demikian karena tidak mau sombong. Semoga Allah mengampuni omonganku. Amin.
Selama aku mondok di sini aku tidak hanya menjadi supir. Tapi juga menjadi tukang cuci mobil. Tapi, keistimewaannya adalah aku dibebaskan untuk mengambil makan di belakang rumah Kiai Saleh.
“Mas, dipanggil Kiai,” kata Mas Ahmad.
“Ada apa?” tanyaku.
“Gak tahu, Mas. Kayaknya sih disuruh nyupir.”
Aku langsung menuju kediaman Kiai Saleh. Ternyata benar apa yang dikatakan Mas Ahmad.
“Antar saya ke Bandung, tapi sebelumnya mampir dulu ke rumahmu. Kamu hafal jalannya ‘kan?”
“Hafal, Kiai.”
“Silahkan ke kamar dulu, siap-siap.”
Waduh!! Sial!! Harus dimampirkan ke mana Kiai Saleh ini. Mungkin ini sudah waktunya Kiai Saleh bertemu keluargaku.
Ketika sampai Cirebon, karena aku sudah capek berbohong, aku langsung menyusuri jalan menuju rumahku di desa Babakan Ciwaringin Cirebon.
“Lho, ini daerah pesantren?” kata Kiai keheranan.
Setelah sampai rumah, aku mempersilahkan Kiai masuk. Tapi, beliau masih heran karena yang beliau masuki adalah rumah Kiai Muhammad, salah satu kiai terkemuka di daerah setempat.
Sebenarnya aku adalah putra Kiai Muhammad. Aku sengaja menyembunyikan identitasku supaya aku bisa merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai seorang pembantu kiai. Dan sekarang aku sudah tahu rasanya.
“Kiai, ini ayah saya, Kiai Muhammad,” aku memperkenalkan ayahku kepada Kiai Saleh yang ternyata mereka berdua sudah saling kenal.
“Jadi, anakku Abdullah mondok di pondok sampeyan,” ayahku kaget setelah mendengar cerita dari Kiai Saleh.
“Benar, dan anakmu luar biasa, dia tidak sombong kepada santri-santri lain karena dia anak kiai besar. Ngomong-ngomong kenapa sampeyan tidak tahu di mana anak sampeyan mondok?” tanya Kiai Saleh kepada ayahku.
“Aku tidak tahu karena dia bilang dia ingin berkelana sambil mondok di suatu tempat,” jawab ayahku.
“Pantas saja.”
Sementara mereka berdua asyik berbincang-bincang, aku minta diri kepada ayahku untuk menemui adik-adikku tercinta. Aku sudah kangen kepada mereka.
“Mas, maaf saya harus cepat pergi, saya ada urusan di Bandung dan sekarang saya harus ke sana,” kata Kiai Saleh mengakhiri obrolan.
“Kalau begitu silahkan, semoga selamat di jalan.”
“Sebelumnya saya minta maaf menjadikan anak sampeyan supir.”
“Tidak apa-apa, saya malah senang karena dengan membantu kiai lain anak saya menjadi tidak sombong.”
“Wassalamualaikum.”
“Walaikum Salam.”
Setelah Kiai Saleh yang berpamitan kepada ayahku, kini giliranku. Setelah pamit, aku meminta maaf kepada Kiai Saleh.
“Kiai, maafkan saya karena saya banyak berbohong kepada Kiai.”
“Tidak apa-apa, saya malah senang punya santri seperti kamu.”
Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Bandung dan kembali ke Jepara.
Setelah Kiai Saleh bertemu keluargaku, kehidupanku di pondok menjadi sedikit berubah. Biasanya aku mengambil makananku sendiri, sekarang malah makanannya diantarkan kepadaku.

Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...